Ku naiki Angkutan Umum yang langsung meluncur ke Pajak USU yang sering dikenal dengan “Pajus”. Ya aku dan Nisa menemani Yana untuk membeli tabloid yang murah sesuai dengan kantong anak pelajar seperti kami. Di sepanjang perjalanan Nisa dan Yana terus mengobrol, dan aku hanya membaca novel yang ku pinjam dari temanku. Aku tidak terlalu suka sih baca novel esay, tapi berhubung minjam gak masalah lah. Hitung-hitung nambah wawasan tentang gimana nulis yang bagus.
Entah kenapa, aku suka kali dengan menulis. Aku sering memasukkan masalah pribadiku sendiri dalam tulisan ku. Tapi perlu dicatat, enggak semua tulisanku itu masalah pribadiku, Okey? Semasa SMP, meja belajarku penuh dengan buku-buku yang di dalamnya karya tulisku. Kadang kalau aku lagi susah tidur, aku sering menulis dan akhirnya mataku kenak dampaknya. Aku jadi harus memakai kacamata yang ketika ku periksa aku terkena rabun jauh yang sering dibilang min, kata dokternya min aku sudah tinggi dalam permulaan memakai kacamata. Itu menjadi salah satu factor orang tuaku tak mengizinkan hobi yang dari SD sudah ku sukai.
Kedua orang tuaku marah kalau aku nulis-nulis yang kata mereka sih, tulisan aku enggak bermakna, enggak ada bagus-bagusnya. Mereka pun enggak segan-segan membakar semua buku-buku tulisanku dan novel-novel yang ku beli dari uang jajan ku sendiri. Aku hanya menangis dikamar melihat mereka membakar semua impianku untuk mejadi seorang penulis.
Dengan sikap mereka yang sangat menentang keras hobiku itu, aku mulai malas menulis dan membaca novel. Bagiku sepertinya tak berguna bakat ku itu kalau mereka terus terusan membuang dan membakar tulisanku.
***
Tanpa kusadari Angkutan Umum yang ku tumpangi telah berhenti di depan Pajus. Aku mengikuti langkah Yana dan Nisa menuruni Angkutan Umum itu dan membayar ongkos kami masing-masing. Yana dan Nisa pun melangkah duluan dan aku hanya mengikuti mereka dari belakang menyusuri jalan yang kanan kiri penuh dengan kios. Aku melihat kanan kiriku sembari mencari barang yang unik yang bisa ku beli di pajak bersih ini.
Kami berhenti ditoko pertama, toko yang menjual segala macam majalah. Yana yang sangat mengidolakan Actor dan Aktris Korea langsung masuk dan mencari-cari majalah dan poster-poster idolanya itu. Aku dan Nisa hanya melihat-lihat saja sembari menunggu Yana. Kami terus menjelajahi setiap jalan di pajak itu sampai kami sendiri kecapekan.
***
Langit sudah menunjukkan muka suramnya. Kami langsung menyudahi acara shoping dan langsung berlari ke jalan untuk menunggu Angkutan Umum yang sesuai dengan jalur kami. Aku semakin takut dan berpikir gimana nanti aku pulang ya? Basah semua lah baju dan tasku.kegelisahan tak urung pergi dari hatiku karna Angkutan Umum yang akan kami tumpangi tak kunjung menampakkan bodynya.
Kegelisanku sedikit terobati lantaran aku sudah menaiki Kendaraan yang akan membawa ku pulang. Aku mengobrol dan bercanda ria dengan Nisa dan Yana untuk menghiraukan rasa gelisah yang terus melaanda hatiku.
Gleduk!
Suara petir yang kuat membuatku ingin menangis. Tapi berhubung malu banyak orang di angkutan itu, aku mengurungkan niatku untuk merengek ingin cepat pulang. Hal yang sangat aku takuti saat aku berada diluar dengan kondisi langit terus menangis adalah petirnya. Aku takut banget kalau lagi diluar saat hujan, ingin rasanya minta bantuan sang malaikat penolong untuk mengantarkan ku pulang. Tapi belom pernah ada tuh malaikat penolong yang datang menghampiriku.
Beberapa kali langit telah menghentakkan petirnya yang membuat aku terus ketakutan seraya berdoa semoga aku selamat sampai ruma. Belum lagi aku harus naik angkutan umum yang mengarah ke rumahku. Aduh malas banget deh kalau sudah hujan begini. Dengan muka yang gelisah aku menatap jendela kendaraan yang kutumangi. Kacanya mulai berembun dan dingin. Aku menggoreskan jari telunjukku dan menulis nama di kaca itu.
“Seperti anak-anak” Celetuk Yani dengan tawa kecil. Aku menatap mukanya yang sangat lucu saat tertawa.
“Bagian yang sangat ku suka dalam hujan adalah embun dan tetesan hujannya.” Jawabku dengan sok romantis. Yana dan Nisah tersenyum sembari menggeleng kepala bersamaan. Aku kembali ke kegiatan yang membuatku tidak gelisah lagi
“Kelihatan banget nih, masa kecilnya sangat suram” Celetuk Nisa lagi yang membuat kami bertiga tertawa melepas keheningan didalam Angkutan itu.
***
Aku turun duluan dari Angkutan Umum itu dan menyebrang untuk naik Angkutan yang akan melewati depan rumahku. Hujannya tak sederas tadi, hanya tersisa rintikan-rintikan hujan yang sangat ku sukai. Aku menunggu Angkutan di depan pasar sembari berteduh dibawah atap kedai kecil pinggir jalan. Aku melihat sepatuku yang sudah basah lantaran air yang menguap merendam kaki ku sampai semata kaki.
Berpikir untuk besok tidak sekolah lantaran sepatu basah begini enggak mungkin akan kering sampai besok pagi. Tapi aku yakin Ayah pasti tidak mengizinkanku untuk libur sehari karna gara-gara sepatuku basah. Aku juga tak punya sepatu cadangan, maklum lah ayah yang berdarah Padang sangat pelit untuk membeli barang yang sudah ada. Contohnya sepatu aja. Kalau belum hancur nih sepatu, dia enggak bakalan membeli sepatu yang baru. Hal itu sudah ku pahami dari aku kecil.
Tetesan air bening yang turun dari langit terus membuatku ingin bermain air. Mungkin benar kata Nisa ya, masa kecilku sangat suram. Sehingga aku sering melakukan yang seharusnya anak SMA seperti ku tidak melakukannya. Tapi inilah aku. Ya aku menyukai kebiasaan yang bisa dibilang seperti anak kecil.
Di tengah lamunanku dengan terus memainkan air hujan yang turun, sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang lumayan membuatku basah dan kotor. Ia melindas genangan air didepanku yang pastinya membasahi seragam sekolahku. “Dasar orang kaya belagu” teriak ku dengan emosi. Aku persis seperti anak gembel yang sangat jorok. Mood ku langsung berubah, aku uring-urungan sendiri sembari melihat Angkutan yang tak kunjung muncul.
Tampak dari kejauhan Angkutan yang akan aku tumpangi berjalan pelan. Aku menyetopnya dan naik. Tidak ada satu pun penumpang di Angkutan itu, hanya aku. Aku mengmbil bangku paling pojok biar bisa merebahkan badanku. Angkutan yang ku naiki berhenti dan seorang cowok berparas nan tampan naik dan duduk mengambil posisi tepat di depanku. Aku yang dari awal naik Angkutan ini sudah masang mood gak enak menghiraukan laki-laki yang sempat senyum sama aku.
Nyesal banget sih tidak membalas senyuman cowok itu. Ya ampun, senyumnya semakin memancarkan aura yang sangat membuatku keleper-keleper. Tapi ada sedikit rasa malu sih sama nih cowok, baju ku kotor banget. Takutnya nih cowok senyum karna menahan tawa melihat aku persis seperti anak gembel yang hidup luntang lantung.
Susah nih kalau mood ku sudah hancur. Cowok ganteng aja bisa ku hambur- hamburin. Ah kacau lah! Moody salah satu sifat ku yang sangat aku kesali. Karna tak jarang mood ku hancur dalam waktu yang tak tepat. Salah satunya saat ini. Sampai Angkutan ini membawaku sampai didepan rumahku pun aku tetap masang muka jutek yang membuat cowok itu mengurungkan niatnya untuk senyum sama ku. Nyesal banget sih. Tapi mau segimana gantegnya cowok di depan aku kalau mood aku hancur, ya hancur juga tuh mimic mukaku. Ujung-ujungya nyesal senidiri deh.
INI CERPEN PERTAMA YANG SAYA POST DI BLOG. MAAF KALAU ANDA SEBAGAI PEMBACA TIDAK SUKA ATAU ADA KESALAHAN, MUNGKIN BISA DIKRITIK :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar